Selasa, 23 Januari 2018

Landasan Historis Kurikulum Pendidikan

Landasan Historis Kurikulum yaitu:
Landasan historis kurikulum membicarakan proses bagaimana program pendidikan masa lalu tumbuh sampai saat ini dan masih berpengrauh pada kurikulm sekarang dan masa depan. Jika pendidikan harus tumbuh dari posisinya yang konsveratif menuju perbaikan mengikuti tuntutan zaman, pendidik perlu terus menerus mengevaluasi landasan berfikir, praktik dan prosedur pendidikan saat ini dengan memperhatikan perkembangan pendidikan di masa lalu (Stone & Schneider, 1971:224) berikut ini sejarah singkat kurikulum sejak pra-abad ke-20, menjelang abad ke-20 sampai kurikulum abad ke-20.
 A. PENDIDIKAN PRA-ABAD KE-20
                     Pendidikan pada hakikatnya, telah ada semenjak manusia ada: pada masa pra sejarah, orang tua mengajar anak-anak dengan tujuan yang relatif sama dengan masyarakat saat ini yaitu untuk mewariskan atau mentransfer nilai-nilai budaya kepada generasi muda melalui pendidikan. Pendidikan atau sekolah, menurut Wiles& Bondi (1989:4), sering kali menjadi kendaraan bagi rekonstruksi sosial. Beberapa cuplikan sejarah pendidikan di masa pra abad ke-20 adalah sebagai berikut:
            Pendidikan sejak masyarakat pra literasi (700-5000 SM) merupakan sejarah panjang, sampai masa kini, ketika sejak itu umat manusia mengembangkan keterampilan hidup (life skills) seperti mencipta, mempertahankan, dan mentransfer kebudayaan. Pengembangan kebudayaan keterampilan hidup (cultural survival skills) itu adalah tema pokok pendidikan, berdasarkan kenyataan bahwa sejak dahulu sampai kini, manusia merespons berbagai masalah dan tantangan hidup untuk menemukan cara penanggulangan yang tepat bagi kehidupan yang baik. Tantangan hidup manusia prasejarah, antara lain, keganasan alam seperti banjir dan kekeringan, binatang buas dan kelompok sosial lain yang tidak bersahabat, dan desakan untuk memenuhi kebutuhan seperti pangan, sandang, dan papan. Keadaan ini, menurut Butts (1955), mengharuskan manusia memiliki pengetahuan dan keterampilan yang di mulai dengan cara coba-coba menanggulanginya yang makin lama berkembang sampai menjadi kebudayaan (Ornstein&Levine,1985:75).
           Karena muatan budaya sekelompok masyarakat yang ternyata mampu membuat kehidupan mereka nyaman, para orang tua masyarakat itu ingin mewariskannya kepada anak cucu mereka yang mencakup pengetahuan, keterampilan, sikap, bahasa, dan muatan  kebudayaan lain. Bentuk paling awal muatan kebudayaan yang diwariskan itu ialah hasil pembuatan alat-alat keperluan hidup (tool making), cerita cerita rakyat, dan keterampilan berbahasa. Melalui bahasa, warga mengembangkan  keterampilan abstrak yang memungkinkan kehidupan mereka berkembang pesat sampai menjadi bagian penting proses pendidikan yang berlangsung secara alami dari orangtua ke anak-anak (Ornstein& Levine, 1985:75). Keterampilan berfikir yang ditunjang keterampilan bahasa merupakan modal strategis bagi perkembangan keterampilan hidup warga dan perkembangan nilai-nilai kemanusiaan kemasyarakatan.
 1.    Pendidikan Mesir dan Cina Kuno
         Dari tahun 4000-3000 peradaban mesir ditopang tiga hal utama: penggunaan mental, sistem tulisan, dan pemerintahan terorganisasi (Johnson,1968:8). Hampir seperdua dari 6000 tahun sejarah mesir, pendidikan lebih fokus pada praktik daripada pengembangan berfikir kognitif abstrak, sedangkan aspek afektif diajarkan melalui institusi agama dan keluarga. Kemudian timbul pendidikan bagi anak laki-laki yang diajarkan oleh bapaknya. Hal ini memungkinkan berkembangnya program pendidikan yang lebih berorientasi vokasional dengan sistem magang yang diperkuat latihan di rumah. Fokus utamanya aialah pada pengajaran menulis hieroglyph yang di dorong pemerintahan berbasis dokumen oleh kelas penguasa konservatif sebagai otoritas pendidikan tinggi. Secara tradisional, tekanan terutama diletakkan pada pengajaran matematika praktis, astronomi, kedokteran, teknik, dan geografi yang berakibat pada kemajuan arsitektur Mesir Kuno.
       Diperkirakan keruntuhan peradaban Mesir Kuno disebabkan kekurangan kesusastraan, pola pikir filosofis dan penelitian ilmiah yang berhubungan dengan pengetahuan abstrak (Schubert, 1986:55). Situasi berbeda ditemukan di Cina yang didominasi dua orientasi pendidikan: (1) ide Lao-Tse (abad ke-6 SM), dan ke (2) Confucius (abad ke-5 SM).
Pendidikan menurut, Lao-Tse, merupakan buah kontemplasi sebagai landasan pokok perkembangan pikiran dan prestasi yang bermanfaat dan penting bagi manusia. Adapun pendidikan, menurut Confucius, di haruskan berorientasi kepada kepentingan masyarakat daripada kepentingan pribadi, sehingga pendidikan dipandang sebagai proses yang mengembangkan masyarakat dan institusinya.

2.Pendidikan Yunani Kuno
        Sistem pendidikan dunia modern berasal dari sistem pendidikan Yunani Kuno (1600-300 SM). Fokus pendidikan mengutamakan latihan pada pendidikan jasmani melalui latihan kemiliteran gimnastik. Pendidikan moral dan politik diajarkan dengan menghafal undang-undang. Sistem pendidikan sparta tersebut menghasilkan anak berketerampilan militer yang kuat dan politisi andal (Johnson,1968:9).
         Pertengahan abad ke-15 SM, timbul perubahan ekonomi Yunani, yaitu munculnya kelas pedagang yang memerlukan tipe baru pendidik, terutama di Athena yaitu a Sophist. Kelompok pendidik tutorial privat ini mengembangkan berbagai ragam metode mengajar bagi kelas pedagang dan kelas sosial di Athena dan di beberapa negara kota di Yunani. Mereka membutuhkan kemampuan intelektual dan keterampilan retorika.
         Setelah 479 SM dan akhir perang prusia, pendidikan Yunani tumbuh pesat. Mata pelajaran membaca, menulis, dan bercakap-cakap dikembangkan sampai diajarkan kepada anak-anak berumur 7-13 tahun. Para sophist menciptakan mata pelajaran formal seperti Tata Bahasa, Retorika, dan Logika. “Kurikulum” bagi anak berumur 13-16 tahun diperluas dengan memasukkan geometri, menggambar, musik, tata bahasa, dan retorika.
          Socrates  470-399) SM) Terkenal dengan socratic method of questioning, metode bertanya dan diskusi yang memicu inkuiri diikuti penguatan kebaikan(virtues). Metode bertanya Socrates itu dianggap suatu teknik pedagogik ampuh oleh banyak guru sampai kini
(Zais, 1976: 132)
        Plato (428-328 SM), murid Socrates paling terkenal, mengembangkan formulasi klasik prinsip filsafat idealisme, filsafat tradisional dan tertua. Menurut idealisme, berfikir dan belajar merupakan nama dari proses-proses penemuan atau pengumpulan kembali pengetahuan tersembunyi (latent knowledge) dalam bentuk yang sebenarnya. Karena pengetahuan yang sebenarnya itu (true knowladge) bersifat intelektual dan realitas, pengetahuan hanya bisa diungkap secara intelektual, dan karena itu, pendidik harus bersifat intelektual  (Ornstein & levine: 82).
        Kurikulum plato, dalam plato’s Republic, adalah suatu proses yang sangat panjang, mulai sejak anak berumur 6-18 tahun bagi anak laki-laki dan perempuan (Schubert,1986: 56). Kurikulum plato Quadrivium terdiri atas empat bidang studi: Aritmetika, geometri, astronomi, dan musik.
       Keempat bidang studi itu, menurut Plato, membentuk sains yang mempersiapkan siswa untuk memahami knowledge of the good. Untuk menguasai pengetahuan yang baik perlu dilakukan studi sistematis tentang dialetic atau filsafat. Jadi, plato memandang filsafat bukan hanya sebagai the queen of all the sciences, tetapi juga inti kurikulum pendidikan tinggi (Zais, 1976:133)
        

3.             Pendidikan Romawi Kuno
                   Pendidikan Romawi Kuno di pengaruhi pendidikan Yunani. Tujuan pendidikan Romawi Kuno adalah pengajaran nilai-nilai moral dan kemuliaan sosial untuk menjaga ketertiban hukum, kebiasaan dan agama (Johnson, 1968:11). Jika Yunani fokus pada filsafat spekulatif, Romawi lebih tertarik pada pendidikan bagi polistisi dan tenaga administratorandal (Ornstein & Levine, 1985:87)
                    Beberapa periode penting peradaban Romawi berakibat pada perbedaan   sistem pendidikannya. Pada mulanya pendidikan dilakukan di rumah ( 700-275 SM ) oleh orang tua. Selama periode 275-130 SM, Kurikulum berbasis filsafat Yunani, sastra dan retorikan diberlakukan. Kemudian, sistem pendidikan Romawi yang lebih berorientasi Latin, menghasilkan Sekolah Gramar Latin yang menjadi cikal bakal model pendidikan Barat. Sekolah Gramar itu menghasilkan orator yang pada waktu itu merupakan simbol keberhasilan warga Romawi. Sistem pendidikan format Romawi di mulai di sekolahdasar semacam ”Play School“ bagi anak umur 6-12 tahun, yang mengajarkan membaca, menulis, aritmatika dan moral. Sekolah Dasar dilantukan dengan Sekolah Menengah atau sekolah gramar dengan mata pelajaran bahasa Latin, bahasa Yunani, disamping berbicara, sejarah, geografi, mitologi, dan etika. Siswa diatas 16 tahun dipersiapkan menjadi ahli hukum atau administrator publik melalui sekolah retorika untuk mempelajari gramar, retorika, logika dan sastra. Kemudian bangsa Romawi mengembangkan kurikulum The Seven Liberal Arts yang berasal dari kurikulum Yunani Kuno. Trivium (gramar, retorika dan logika ) dan kurikulum Plato Quadrivium  (aritmetika, geometrika, astronomi dan musik )
                        Revolusi mengubah sistem pendidikan Romawi. Setelah Romawi menjadi empirium, keberhasilan orang di empirium itu ditandai kemampuan berpidato yang dilengkapi penguasaan sains dan pelayanan publik sehingga pendidikan menjadi domain pemerintah.
                      Pada peiode 300-500 SM kurikulum terpisah dari kehidupan. Penghafalan karya sastra dan kontrol  ketat terhadap siswa menjadi bagian misi pendidikan. Menurut Mxwell et al (1963 )sensor ide-ide dan pemisahan para ahli politisi dianggap sebagi penyebab kejatuhan Romawi (Schubert, 1986:58 )
4.             Pendidikan Islam
                    Kebudayaan Islam, bersumber dari Nabi Muhammad SAW (569-632), sebagai Nabi Allah yang menjadi reformer dan proselytizer dan Nabi terakhir dan paling utama utusan Allah. Sumber utama ajaram agama Islam tertulis dan terpelihara dengan baik dalam kitab suci Al-qur'an. Al-qur'an itu sendiri, menurut Abdurrahman an-Nahlawi ( 1989:45 ), mulai diturunkan dengan ayat pendidikan. Dan didalam Al-qur'an itu, banyak ayat yang memerintahkan umat Islam agar mampu menggunakan akalnya (berpikir), sehingga umat bisa mempelajari berbagai gejala alam raya hasil ciptaan-Nya. Sejarah cukup banyak mencatat pakar dan pemikir islam ikut berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan. Pada abad ke-10 dan ke-11, pendidikan Arab Islam ( 700-1350 ) berpengaruh pendidikan Barat, terutama pada evolusi keilmuan fiabad pertengahan, khususnya filsafat pemikiran dan pendidikan tinggi. Sebagai hasil kontak ilmu Barat dan ilmu Arab Islam di Spanyol dan AfrikaUtara, Ilmuan Barat mempelajari cara berpikir baru tentang matematika, ilmu-ilmu alam, kedokteran dan filsafat. Pakar Islam telah menemukan dan menerjemahkan pemikiran dan ide-ide filsuf Aristotles, Euclid, Archimedes dan Hipocrates  ke bahasa Arab. Terjemahan itu penting bagi pendidikan Islam dan melalui kontak dengan Eropa, hasil terjemahannya itu diperkenalkan kembali kedunia Barat. Selain itu pakar Islam berkontribusi pada studi astronomi, matematika dan kedokteran.
                    Pada abad pertengahan, tingkat pembelajaran dan keagungan Islam di kota-kota Moorish Toledo Gradana di Spanyol Turki Baghdad di Mesopotamia dan Kairo di Afrika Utara dalam banyak hal lebih unggul di banding Barat. Dari pusat-pusat ide  itu muncul universitas Baratmucul sehingga hubungan yang lebih kosmopolitan dengan timur berkembang pesat. Dari budaya di era itu muncul beberapa pendidik besar seperti al-Ghazali (1058-1111) sebagai salah seorang ilmuan Islam yang mengemukakan ketidak mampuan otak manusia jika berhadapan dengan kemuliaan, kebesaran, kekuasaan, dan keagungan Tuhan. Tiga ratus tahun kemudian Ibnu Khaldoun (1332-1406 ) menurut ahli sejarah, merupakan seorang intelektual terbesar diabad itu. Melalui perluasan kekuasaan Islam, ajaran agama ini tersebar sampai ke Afrika Utara dan India, bahkan sampai ke Spanyol, sebagai akibat kontak dengan berbagai ragam penduduk dan budaya, seperti Hindu, Islam berkembang yang tefleksi pada pertumbuhan pesat sastra, filsafat sains dan arsitektur,
                     Atas pengaruh pemimpin Islam Arab lahir pendidikan tinggi Arabdi Baghdad, Kairo, Cordaba dan Grenada. Selain itu Kontribusi terbesar bangsa Arab pada pendidikan Barat ialah terjemahan dan pelestariankarya besar filsuf Yunani seperti Aristoteles, Eilicid Galen, dan Prolemy (Ornstein & Levine, 2008:77). Pemikir Islam seperti Avisena (980-1037) yang menerjemahkan filsuf Aristoteles yang sangat bermanfaat dan Averroes ( 1126-1198 ) seorang ahli kedokteran, penerjemah dan komentator Aristoteles juga berpengaruh besar pada pendidikan Barat dan Eropa.
                   Pada abad ke 21, interaksi makin interns antara Arab dan kebudayaan Islam di dunia Barat. Walau inteaksi ini terhambat oleh kecurigaan dan permusuhan kejadian 11 September dan penduduk di negara negara Islam oleh Barat terutama Amerika Serikat seperti Irak, Afganistan, dan lain-lain, dan mulai muncul memiliki keinginan untuk mempelajari ajaran dan kebudaan Islam. Saat ini banyak sekolah dan perguruan tinggi di Amerika Serikatyang membuka program studi dan menawarkan mata pelajaran dan mata kuliah tentang kultur Arab dan ajaran Islam. 
                Dapat disimpulkan bahwa Ilmuan Arab Islam berkontribusi besar pada perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Barat melalui karya terjemahan filsuf Yunani dan kepakaran beberapa tokoh ilmuan Islam sendiriyang luput dari pengetahuan orang banyak karena jarang diungkapkan dalam literatur dan media massa kini.
 
5.             Pendidikan Abad Pertengahan
                Karena pendidikan di Abad pertengahan ( 500-1400 SM ) identik dengan pendidikan Kristen, perspektif kurikulum diera ini terkait ajaran Kristen. Era kebudayaan dan pendidikan Barat mulai pada akhirperiode Klasik Yunani dan Romawi Kunosampai permulaan era modern. Abad pertengahan ditandai melemahnyapembelajaran dan penguatanpengaruh slolastik pendidik akademik. Sesuai ajaran agama, pengetahuan yang perlu masuk kurikulum ialah jiwa manusia immortal, tidak berpindah – pindah dan lebih utama dari benda duniawi.
                   Pendidikan dasar era ini dilakukan melalui institusi seperti parish chantry dan monasic school dibawah naungan gereja. Sekolah menengah, sekolah monasik dan sekolah katedral menawarkan kurikulum pengetahuan umum, adapun sekolah yang memberikan keterampilan pokok dan kejuruan dilakukan gilda perdagangan dan kerajinan. Parakesatria menerima pelatihan kemiliteran dan hukum sipil di istana. Dalam pengembangan institusi pendidikan, yang ditandaimunculnya perguruan tinggi Abad Pertengahan, dikuatkan oleh suburnya pendidikan akademik sehingga memberikan kontribusi pada pendidikan era ini. Johnson (1968) mengidentifikasi lima jenis sekolah diawal era Kristen (1) Cateehumenal School, dikelola gereja untukmengajarkan doktrin disiplin, dan moral sesuai ajaran Kristen disamping pengajaran scriptures dan hymns. (2) Cateehetical School mengajarkan teologi Kristendalam konteks filsafat Yunani dan sains. (3) Monasic School mengajarkan bahasa Latin, membaca, menulis, musik, dan etika bergaul dan moral disamping matematik dan astronomi. (4) Song School mengajarkan menyanyi dan musik yang harus dikuasai siswa mengiringi kegiatan agama, dan (5) Chantry School dilaksankan pendeta untuk mengajarkan nyanyian misa, dan jika waktu ada, diajarkan pula membaca dan menulis bahasa Latin sesuai kebutuhan gereja (Johnson, 1968:12)
6.    Pendidikan Era Renaisan dan Reformasi
      Masa Renaisans, bermula pada awal abad ke 14 (1350-1500), mencapai puncaknya pada abad ke 15 yang ditandai munculnya perhatian pada aspek humanistikYunani Latin Klasik. Sama halnya dengan skolastik pertengahan, para humanis di era ini menemukan otoritas masa lampau dengan menggunakanmanuskrip klasik mereka. Tetatpi menurut Schwoebel (1971) pendidik humanis lebih terakhir pada pengalamanskeduniawian dan ketuhanan.
     Martin Luther King dari Jerman  Dan John Calvin dari Perancis,adalah dua contributor utama dalam perubahan kurikulumdi era Reformasi. Luther ingin semua pendidikan wajib bagi semua anak. Sekolah harus dibawah control pemerintah sehingga mudah di monitor. Pendidikan agama harus diberikan dalam bahasa ibu anak bersangkutan dan mengusulkan music dan pendidikan jasmani dalam kurikulum serta perlunya mengajarkan bahasa klasik pada pendidikan tinggi. Calvin mengusulkan perlunya supervise rumah tangga supaya diketahui apakah orang tua mengajarkan ajaran agama dengan benar, sehingga bisa dihindarkan pengajaran agama yang tidak benar, Calvin juga menginginkan agar sekolah dan gereja sama-sama fokus pada pengajaran agama, Kedua tokoh menganggap peran strategi rumah tangga dalam penndidikan anak-anak sebagai bentuk disiplin anak-anak.
     Pada abad 16 muncul pendidik realis yang menyatakan banyak pengetahuan yang perlu diketahui siswa selain pengetahuan klasik, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui observasi dan analisis. Wives juga menginginkan pendidikan untuk semua terutama keluarga miskin dengan fokus pada seni, alam dan otak sebagai mata pelajaran utama. Di Perancis muncul Francabelais yang menekankan pentingnya pendidikan disenangi anak, dan karena itu anak perlu dibimbing agar belajar dari pengalaman melaui observasi, interpretasi, dan evaluasi kehidupan, sehingga pendidikan tidak hanya bersumber pada buku teks. Jadi, para realis menginginkan pendidikan lwbih berorientasi life-centerd dan mereka setuju dengan ide reformasi yaitu universal education.
B.       PENDIDIKAN MENJELANG ABAD KE 20
                Pada awal tahun 1800-an, akademi mulai menggantikan sekolah Gramar latin, karena Akademi menawarkan beragam kurikulum praktis bagi siswa yang akan bekerja setelah tamatm disamping program bagi siswa yang akan meneriskan ke perguruan tinggi. Menurut Wiles dan Bondi, kurikulum akademi mencakup mata pelajaran klasik termasuk bahasa Latin, orthography, dan Gramar.
                 Ide Rosseau dan Lockke diadopso melalui reformssi kurikulum di jerman oleh Johan Basedow dengan menambah mata pelajaran prakttis seperti ilmu alam, sejarah alam,anatomi, dan pendidikan jasmani.
                Idealismu Pestalozii direalisasikan dalam sekolah modern tanpa bayar di Jerman untuk menjadikan pendidikan sebagai instrument negara bagi perbaikan social, bukan instrument gereja. Sehubungan dengan itu, Kant menginginkan agar menjadi tugas negara untuk menyediakan pendidikn bagai perkembangan bagi siswa. Ide ini memengaruhi Horace Menn, Hery Bernard dan Harris. Ide Kant, Hegel, dan Pestalozzi berpengaruh sedikir pada pendidik dan filsuf Jerman Johan Federick Herbart yang dikenal sebagai Bapak Sains Pendidikan dan Bapak Psikologi Modern. Hal ini disebabkan karena ide Herbart banyak berpengaruh pada pendidik sampai awal abad ke 20. Herbart mengembangkan lima langkah metode pengajaran
1.     association, mengembangkan antara pengetahuan yang telah diketahui dan yang akan diketahui siswa
2.    presentation, menyajikan materi yang akan dipelajari menurut psikologi anak
3.    association, mengembangkan analogi dengan materi sebelumnya
4.    geleralization, berpindah dari contoh konkret ke yang abstrak
5.    application, memakai pengetahuan yang baru diperoleh sebagai basis bagi pengembangan pengetahuan selanjutnya
       Esensi tujuan pendidikan Hertbart adalah mengembangkan manusia berbudaya sesuai standard nilai-nilai yang tinggi. Ini berarti bahwa pendidikan menurut Herbart adalah uusaha moral yang dikembangkan bagi potensi moral yang inheren bagi setiap diri anak, dank arena itu pendidikan harus dilakukan berdasarkan psikologi anak. Dan adal tugas guru untuk mengajarkan dan mengarahkan perkembangan anak menuju ke pembentiukan mereka menjadi manusia yang berbudaya. Kurikulum untuk mencapai tujuan tersebut menurut Herbart, adalah pengajaran niali-nilai budaya yang terdapat dalam mitologi dan sejarah kuno dalam literature modern. Deengan kurikulum tersebut guru harus memperkaya dan memperluas perspektif anak dengan cara mengekpose anak pada pengetahuan terkait pengalaman agar dapat meningkatkan kadar moral anak (Schubert, 1986: 67-68)
       Leo Tolstoy dari Rusia, mengenal pendidikan Pestalozzi. Dia mengembangkan sekolah dasar yang membebaskab anak-anak keluar masuk sekolah sesuai keinginan mereka dan sekolah dijadikan sebagai tempat anak anak bebas bermain dengan ide-ide, belajar diskusi atas bantuan guru dan orang dewasa dimasyarakat. Tolstoy telah  melakukan eksperimen untuk mengantisipasi pendidikan progresif yang sangat liberaldan ia mengajukan kurikulum sebagai yang terdapat dalam diri guru. Hal yang dijelaskan oleh Boultwood bahwa guru harus seorang yang menguasai mata pelajaran yang diajarkan dan menguasai pula bagaimana mengajarkannya, bukan saja secara intelektual tetapi juga dengan nuansa kasih saying pada anak.
     Kolonel Francis Wayland Parker (1837-1902), setelah menunjungi sekolah Herbart, Pestalozzi, dan Froebel di Eropa, mengembangkan idenya pada sekolah normal di Chicago. Menurut Fraley, tekanan pada minat, bakat dan pengalaman anak serta kritiknya terhadap pendidikan tradisional membuka jalan bagi munculnya pendidikan progresif di Amerika Serikat dan ide ini tenyata sangat besar pengaruhnya pada John Dewey.
C.      PENDIDIKAN ABAD KE 20
              Ide James tentang Leaerning by doing sangat berkesan pada Dewey yang juga terpengaruh tentang antara demokrasi dan pendidikan oleh Mann dan Jefferson. Besarnya pengaruh tersebut terhadap Dewey terlihat pada banyak buku yang ditulisnya selama 93 tahun kehidupan. Dewey menekankan perlunya pendidik menyadari bahwa pendidikan harus melibatkan anak secara bermakna dalam kehidupan social. Guru dan pengembang kurikulum dalam memulai pendidikan dari aspek psikologis anak sehingga menghasilkan pengalaman yang berkembang melalui perkenalan anak atas pengetahuan yang relevan.
         Ide inilah yang membawa Dewey ke kesimpulan bahwa sekolah dan masyarakat tidak terpisah. Karena itu tujan sekolah ialah untuk menyelesaikan masallah social agar terbentuk masyarakat yang lebih baik. Berdasarkan hal itu pendidikan harus berfokus pada pembentukan invidu anak sebagai makhluk unik, sehinhha kebutuhan perkembangan individual anak harus bisa berkonstribusi pada kemajuan masyarakat. Dewey memandang pendidikan atau sekolah sebagai suatu institusi netral yang bisa berfungsi pengembang atau pengekang kebebasan. Implikasi ini, Dewey menginginkan agar tujuan pendidikan sejalan dengan tujuan masyarakat.
Lingkungan keluarga anak yang positif merupakan salah satu kondisi diperlukan bagi perkembangan anak, sehinhha Montesori mengajukan metode mengajar yang kondusif, yaitu tersedianya rangsangan positif bagi pemenuhan perkembangan minat dan bakat anak sedemikian rupa sehingga anak bisa dibiarkan berkembang sesuai kecepatan perkembangan masing-masing. Tujuan utama pelajaran individual Montesori adalah membantu anak menrurus diri senidiri; metode ini bisa tersebar luas ke seluruh dunia melalui latihan pendek selama enam bulan.
 Amerika Serikat menancapkan tonggak kelahiran kurikulum sebagai bidang study yang ditandai munculnya tiga peristiwa penting pada tahun 1918. Pertama, William Kilpatrick (1925) menerbitkan buku Project Method yang dibaca luas seluruh dunia untuk mempromosikan ide filsafat kurikulum Dewey. Ternyata, ide tentang perlunya keterlibatan siswa dalam perencanaan kurikulum berakar dari Kilpatrick dan Rugg (1930) yang mempromosikan penyusunan kurikulum terpusat pada siswa . Karena itu, menurut Kilpatrck, guru dad siswa harus memiliki tujuan yang sama, berkisar pada situasi, berkisar pada situasi kehidupan yang tipikal dan proyek harus berada dalam situasi social seperti sesuatu yang akan dihasilkan atau di konsumsi, sesuatu masalah yang akan diselesaikan atau suatu latihan yang akan dilaksanakan untuk dapat dikuasai anak. Kedua, Kurikulum menurut harus diformulasikan berdasarkan analisis kegiatan ilmiah tentang kehidupan orang dewasa yang diterjemahkan  ke dalamtujuan tingkah laku. Proses ini dikenal dengan activity analysis, yaitu menganalisis kehidupan orang dewasa secara lebih perinci. Ketiga,  Tujuan pendidikan menengah yaitu : kesehatan, penguasaan proses utama, anggota keluarga yang baik, persiapan vokasi pemanfaatan waktu lowong, dan kewarganegaraan (Schubert, 1986: 75)
  Selama tahun 1940-an, kecenderungan pengelompokan siswa dimulai. Perhatian diberikan terutama pada siswa berbakat agar banyak siswa yang dapat meneruskan ke pendidikan tinggi. Ini berarti juga sarana dan prasarana pendidikan serta dana bagi perkembangan bisnis itu sendiri yaitu perkembangan kurikulum.
    Tahun 1960-an timbul ide sekolah komperhensif dan profesi, pendidikan umum disamping persiapan anak masuk pendidikan tinggi. Untuk maksud tersebut diperlukan kurikulum yang mencakup pembelajaran bahasa inggris, bahasa asing, sains, ilmu social dan humaniora. Kecenderungan berlanjut sampai tahun 1970-an dan tahun 1980-an diikuti pemberian kesempatan memperoleh pendidikan bagi keluarga miskin dan bagi berbagai kelompok social ekonomi, etnik, dan gender. Tahun 1980-an juga ditandai sebagai tahun munculnya metode baru yang bermanfaat dalam mengkaji hasil pendidikan dalam masyarakat yang kompleks dan multicultural. Tahuan 1980-an juga ditandai tahun. Munculnya gerakan kembali ke fundamental.Perhatian pada teknologi maju bagi bidang pendidikan juga muncul tahun 1980-an terutama revolusi computer.

  Dapat kita simpulkan bahwa selama abad terakhir, program sekolah atau kurikulum telah mengalami banyak perubahan dalam beberapa waktu tertentu sebagai cara untuk melakukan penyesuaian dengan dinamika perkembangan dan kemajuan masyarakat. Selain itu, perubahan dan penyesuaian juga dilakukan guna memenuhi kebutuhan anak-anak dari kelompok masyarakat dari berbagai ragam latar belakang budaya. Artinya, rancangan untuk mendidik anak telah dilakukan berupa perubahan setiap saat. Sasarannya ialah agar kurikulum responsive terhadap perubahan kebutuhan masyarakat dengan dinamika tinggi sehingga relevansi kurikulum tetap terjaga sesuai tuntutan perkembangan, kemajuan dan tantangan masa depat yg cepat berubah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar